MOVIE REVIEW : THE POUGHKEEPSIE TAPES (2007)


THE POUGHKEEPSIE TAPES
Sutradara: John Erick Dowdle
USA (2007)

Review oleh Tremor

Sepanjang tahun 1990-an, terjadi banyak kasus orang hilang dan pembunuhan sadis yang tak terpecahkan di daerah Poughkeepsie, bagian utara New York. Awalnya, polisi tidak melihat kaitan dari semua kasus tersebut dan memahaminya sebagai kasus-kasus pembunuhan berbeda yang dilakukan oleh profil pembunuh yang berbeda-beda pula. Hingga setelah satu dekade, polisi menemukan sebanyak 800 kaset rekaman video dengan nomor urut pada setiap kasetnya yang diduga dengan sengaja ditinggalkan oleh sang pembunuh psikopat di dalam sebuah rumah. Di rumah yang sama, polisi juga menemukan lebih banyak lagi mayat korban pembunuhan terkubur di pekarangan belakang. Dari rekaman-rekaman video itu akhirnya polisi mendapat titik terang dan mulai menyusun potongan-potongan puzzle yang selama ini membingungkan mereka. Mereka baru menyadari bahwa semua kasus pembunuhan dan penculikan yang tampaknya tak saling berkaitan ternyata merupakan “karya” dari satu serial killer yang sama. Tetapi sudah agak terlambat, karena sosok sang pembunuh sudah lama menghilang. Apa yang ada dalam kaset-kaset tersebut adalah rekaman pendokumentasian komplit yang tersusun rapih dari semua aksi kejam sang pembunuh, mulai dari proses sang pembunuh memantau para korbannya, proses penculikan, penyekapan, penyiksaan, pembunuhan, hingga proses sang pembunuh menghancurkan barang bukti dengan cara memutilasi tubuh para korbannya. Kesemua rekaman tersebut dengan sengaja direkam secara terorganisir oleh sang pembunuh sendiri. Di dunia nyata, ada istilah khusus untuk rekaman video dokumentasi “asli” berisi aksi kekerasan yang dibuat secara sengaja dan mandiri, yaitu snuff video/film. Istilah tersebut akan saya gunakan kemudian di dalam tulisan ini.

Layaknya film dokumenter, The Poughkeepsie Tapes banyak menampilkan wawancara para ahli dari mulai agen FBI, polisi, ahli forensik, keluarga para korban, membuat alur film ini semakin menarik. Pembahasan mendalam mengenai kisah dan profil sang serial killer ini disertai dengan ditayangkannya beberapa cuplikan yang diambil dari video-video snuff yang ditinggalkan oleh sang psikopat. Dari beberapa cuplikan yang ada, kita mengetahui bahwa orang gila ini memperkenalkan dirinya dengan nama Ed pada beberapa korbannya. Film ini seakan berusaha untuk mengungkapkan tentang profil sebenarnya sang pembunuh itu sendiri, memaparkan metode yang Ed gunakan selama ini untuk mengelabui pihak kepolisian, hingga mencari tahu mengapa ia meninggalkan rekaman-rekaman snuff tersebut dengan sengaja.

Sepanjang karirnya sebagai pembunuh, Ed selalu lolos dari penciuman polisi atas banyak kasus pembunuhan karena ia hampir tidak pernah menggunakan metode yang sama dalam setiap aksinya. Ia terus menerus mengubah modus operandi-nya hingga sangat sulit bagi penegak hukum untuk mengenalinya sebagai pelaku yang sama dalam beberapa kasus pembunuhan yang berbeda. Ia sanggup “menciptakan” profil yang bervariasi, dan memilih korbannya secara acak. Laki-laki, perempuan, hingga anak kecil. Ed bahkan sempat menyamar sebagai polisi untuk menangkap (atau lebih tepatnya menculik) beberapa PSK jalanan. Beberapa kali Ed membuang potongan-potongan tubuh korbannya di beberapa negara bagian yang berbeda, dan itu semakin mempersulit pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan.  Ed sama sekali tidak memiliki motif, dan kasus pembunuhan tanpa motif dan pola adalah kasus yang sulit untuk diungkap. Tanpa motif dan modus operandi yang jelas, kita tidak pernah bisa memprediksi orang-orang seperti apa yang akan menjadi korban berikutnya, dan orang seperti apa saja yang memiliki kemungkinan sebagai pelaku pembunuhan.

Hal yang cukup mengerikan sekaligus fokus utama dari film ini adalah, dari 800 kaset snuff yang ditemukan, sebagian besarnya berfokus hanya pada satu gadis saja yang bernama Cheryl Dempsey, yang merupakan salah satu korban Ed yang paling sial. Sejak Cheryl hilang diculik dari rumahnya, ia disekap sebagai budak selama delapan tahun oleh Ed di ruang bawah tanah. Selama delapan tahun itu pula Cheryl dianiaya secara fisik, mental, emosional dan seksual, dan semuanya didokumentasikan dalam bentuk video snuff.

Jangan khawatir. The Poughkeepsie Tapes bukanlah film dokumenter sungguhan. Film ini adalah film horor fiksi yang menggunakan pendekatan ala dokumenter, atau biasa disebut sebagai mockumentary (film dokumenter fiktif) buatan seorang sutradara bernama John Erick Dowdle. Jadi semua kejadian dan rekaman video dalam film ini adalah fiktif belaka. Sepertinya sang sutradara memang menyukai gaya pengambilan gambar sudut pandang orang pertama (POV), yang biasa ditemukan dalam film-film berjenis found-footage karena sebagian besar film yang pernah ia buat memang bergaya found-footage dari mulai Quarantine (2008, remake dari film Rec.), dan juga As Above, So Below (2014, salah satu film found-footage yang cukup seru menurut saya). Jangan bingung dengan nama-nama genre ini. Bisa saya perjelas bahwa The Poughkeepsie Tapes bukanlah film found-footage, melainkan mockumentary mengenai tumpukan found-footage.

Saya pikir the Poughkeepsie Tapes adalah film yang cukup bagus dan sangat efektif. Gelap, kejam, disturbing, dan disusun dengan sangat baik lewat penuturan ala film dokumenter. Inilah yang membedakannya dengan film found-footage murni. Genre found-footage sempat booming beberapa tahun yang lalu. Film-film seperti Noroi (2005), REC (2007), Trollhunter (2010), hingga Grave Encounters (2011) adalah beberapa film found-footage yang saya anggap cukup berhasil. Namun, walaupun ada beberapa film found-footage yang bisa dibilang bagus, tetap saja ada lebih banyak lagi film found-footage yang sangat sulit untuk dinikmati, bukan karena disturbin,  tetapi karena membosankan. Masalahnya adalah karena mau semenarik apapun premis dan ide ceritanya, film dengan genre ini memang cukup tricky dan memiliki potensi untuk berubah menjadi sebuah film yang bertele-tele dan membuat penontonnya tertidur. Tidak semua cerita bisa dibungkus dengan gaya found-footage, dan kalau itu dipaksakan, hasilnya bisa menjadi kegagalan besar. Sementara itu, film mockumentary seperti the Poughkeepsie Tapes rasanya jauh lebih bisa dinikmati karena bergaya dokumenter seperti kita menonton film dokumenter sungguhan yang bertema crime investigation. Tapi bukan berarti membuat mockumentary itu mudah, karena kekuatan dari film seperti ini adalah penggabungan teknik narasi, storytelling dan editing yang baik.

Walaupun ide dasarnya sangat mengerikan dan mengganggu, The Poughkeepsie Tapes bukanlah film vulgar yang memperlihatkan kesadisan dan darah dengan terang-terangan. Film ini mengerikan berkat imajinasi otak kita sendiri. Siapa pun yang mengharapkan film horor dengan teknik usang jump-scares atau adegan vulgar penuh isi perut, bisa jadi kecewa dengan the Poughkeepsie Tapes. Saya beri contoh bagaimana film ini memperkenalkan karakter Ed dengan sederhana, brilian, sekaligus mengerikan tanpa perlu memperlihatkan hal-hal vulgar. Footage Ed yang pertama kali diperlihatkan dalam The Poughkeepsie Tapes membawa kita ke sudut pandang Ed yang sedang duduk di dalam mobil sambil memata-matai seorang gadis berumur 10 tahun yang sedang bermain sendirian di halaman rumahnya. Ed kemudian turun dari mobilnya, mendekati gadis tersebut, dan mulai berbincang-bincang dengan gadis tersebut. Di titik ini orang normal manapun akan merasa khawatir dan tidak nyaman, dan berharap Ed tidak menyakiti anak kecil tersebut. Apalagi kalau kita tahu pasti bahwa laki-laki ini adalah seorang psikopat sadis. Masih dengan sudut pandang Ed, kita mengetahui bahwa akhirnya ia memukul gadis tersebut hingga pingsan, dan menculiknya. Tidak ada adegan vulgar disini. Bahkan proses pemukulannya pun tidak diperlihatkan karena tentu saja kamera yang dipegang Ed tidak akan fokus kalau tangan lainnya dipergunakan untuk memukul. Tapi ide yang ada dalam adegan itu dengan perlahan merayap di dalam pikiran kita, mengafirmasi rasa khawatir dan ketakutan kita, sekaligus mengutuk aksi Ed. Karena ini baru introduksi, sudah sewajarnya kita akan merasa lebih khawatir lagi mengenai footage-footage lain yang akan diperlihatkan. Mengutip dari wawancara dengan orang tua gadis tersebut, “orang gila mana yang tega menculik, memperkosa dan membunuh anak berumur 10 tahun?”

Yang saya tulis barusan hanyalah sekedar introduksi pendek pada karakter Ed di dalam film ini. Kita belum memasuki babak yang lebih mengerikan lagi tentang apa yang terjadi pada Cheryl Dempsey misalnya, gadis remaja yang menjadi fokus di hampir seluruh snuff buatan ed, dimana ia berakhir dengan sangat mengenaskan di akhir film. Tapi itulah kekuatan editing visual yang dicampurkan dengan teknik storytelling dan narasi yang baik. Tanpa perlu diperlihatkan hal yang sangat graphic atau terang-terangan, kita sudah merasa tidak nyaman duluan. Kalaupun semua elemen horor konvensional dalam the Poughkeepsie Tapes dihilangkan, film ini tetap merupakan drama sakit jiwa yang penuh dengan teror dan ide kekerasan tentang bagaimana pembantaian yang dilakukan oleh seorang serial killer menghancurkan hidup banyak orang. Keluarga para korban, para petugas kepolisian, para profiler FBI, semua dibuat frustasi, diperburuk dengan fakta bahwa Ed hanya bermain-main dengan mereka, hingga film ini ditutup dengan fakta pahit atas nasib Cheryl Dempsey. Film ini tidak mudah untuk ditonton, dan sangat disturbing.

Sang kreator The Poughkeepsie Tapes dengan brilian membuat karakter Ed sebagai sosok yang sangat misterius, sangat sadis, sakit jiwa. Ed adalah seorang psikopat delusional, tukang jagal, necrophil, pedophil, megalomaniak, tetapi sekaligus juga sangat cerdik. Sepertinya Ed menikmati mendokumentasikan berbagai “kegiatan”-nya tersebut. Tampak jelas ia melihat semua aksi bejatnya sebagai sesuatu pencapaian pribadi yang mungkin ingin dipertontonkan kepada orang lain. Mengapa polisi tidak pernah menangkapnya, atau mencurigai siapapun sebagai Ed, diluar kecerdikannya, itu menandakan bahwa Ed adalah seorang warga biasa saja yang mungkin tidak memiliki fitur-fitur mencurigakan dalam kesehariannya. Wajah Ed tidak pernah diperlihatkan satu detikpun di dalam film ini, dan justru hal itulah yang membuat paranoia tumbuh, bahwa siapapun bisa saja adalah seorang Ed di dunia nyata. Tetanggamu yang tampak “normal” pun bisa saja adalah seorang serial killer di kehidupan rahasianya. Mari kita lihat profil para serial killer dan psikopat sungguhan di dunia nyata, dari mulai Ed Gein, Ted Bundy hingga John Wayne Gacy. Tidak ada satupun kerabat dekat yang menyangka bahwa mereka adalah serial killer. Kalau saja Ted Bundy tidak pernah tertangkap secara kebetulan karena kasus pelanggaran lalu lintas, mungkin ia masih berkeliaran dan terus melakukan aksinya hingga masa tuanya.

Kebanyakan footage dari kaset-kaset snuff milik Ed yang direkam menggunakan kaset VHS berkualitas buruk menambah sisi realisme film ini. Dan apa yang tertulis di bagian closing credit film The Poughkeepsie Tapes pun bukanlah nama-nama asli dari para aktor dan aktris pendukung di dalam film, melainkan nama-nama karakter (fiktif) mereka di dalam film, membuat kesan seakan-akan film ini adalah benar-benar karya dokumenter asli, dengan nara sumber asli, membahas kisah yang benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Saya yakin, setelah secara tidak sengaja menonton The Poughkeepsie Tapes, ada banyak orang yang melakukan pencarian dalam google untuk mencari fakta apakah film ini adalah film dokumenter nyata atau tidak. Dan sebuah film mockumentary yang mampu membuat penonton merasa penasaran kalau ini adalah dokumenter asli atau tidak, tentu saja adalah karya mockumentary yang berhasil. Apalagi kalau karya tersebut meninggalkan banyak sekali perasaan tidak nyaman di sepanjang filmnya.

 

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: [email protected]


Posted at : Fri, 10 May 2019
Category : Review